PENGAWASAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN MENDUKUNG UPAYA MEWUJUDKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN YANG BERKELANJUTAN UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT    |    MARI WUJUDKAN DIREKTORAT JENDERAL PSDKP SEBAGAI WILAYAH BEBAS KORUPSI    |    PENGAWASAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN MENDUKUNG PENCIPTAAN IKLIM USAHA YANG KONDUSIF    |    MARI KITA JAGA DAN LINDUNGI SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN DARI KEGIATAN ILEGAL DAN MERUSAK    |    STOP ILLEGAL FISHING DAN KEGIATAN YANG MERUSAK SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN    |   

INFO TERKINI

KAMPANYE DAN EDUKASI PEMANFAATAN PENYU DI KEPULAUN KEI, KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT

Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pemanfaatan penyu agar sesuai dengan peraturan yang berlaku, Ditjen PSDKP melalui Pangkalan PSDKP Tual melaksanakan kegiatan kampanye dan edukasi kepada masyarakat di Kepulauan Kei, Kabupaen Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 5 April 2017 bertempat di Aula Pangkalan PSDKP Tual dengan melibatkan WWF (World Wildlife Foundation) Indonesia sebagai salah satu lembaga non pemerintah yang sangat peduli terhadap kelestarian satwa terancam punah salah satunya adalah penyu. Tema kegiatan yang diusung ialah “Sosialisasi Penanganan dan Penyelamatan Penyu di Perairan Kepulauan Kei  Kabupaten Maluku Tenggara”.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari terungkapnya kasus pemanfaatan penyu secara illegal yang terjadi pada Bulan Februari dan Maret 2017 di wilayah kerja Pangkalan PSDKP Tual. Provinsi Maluku memang mempunyai potensi keanekaragaman hayati yang melimpah diantaranya penyu yang sangat rawan terhadap pemanfaatan secara illegal. Atas hal tersebut, Direktur Pengawasan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan memerintahkan kepada Pangkalan PSDKP Tual agar meningkatkan kegiatan sosialisasi, kampanye, dan edukasi kepada masyarakat terkait pemanfaatan penyu dengan melibatkan stakeholders.

Kegiatan kampanye dihadiri oleh beberapa instansi dan pihak yang terkait dengan pengelolaan penyu antara lain Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Tual dan Kab. Maluku Tenggara, Dinas Lingkungan Hidup Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara, BKSDA, LIPI, Polair, Lanal Tual, BKIPM Tual, serta masyarakat dan tokoh pemuda Kepulauan Kei Besar. Narasumber yang terlibat dalam kegiatan ini ialah Plt. Kepala Pangkalan PSDKP Tual, Salman Mokoginta, yang memaparkan regulasi mengenai pemanfaatan jenis-jenis ikan dilindungi. Dalam paparannya, dijelaskan bahwa penyu merupakan salah satu satwa yang dilindungi penuh oleh pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Menteri Kelautan dan Perikanan juga telah menerbitkan Surat Edaran MKP Nomor 526/MEN-KP/VIII/2015 tentang Pelaksanaan Perlindungan Penyu, Telur, Bagian Tubuh, dan/atau Produk Turunannya. Perhatian pemerintah terhadap penyu didorong oleh kenyataan bahwa populasi penyu di perairan Indonesia semakin lama semakin menyusut.

Sementara narasumber yang lain yaitu drh. Dwi Suprapti atau lebih akrab disapa Dwi ‘penyu’, yang merupakan ahli penyu dari WWF Indonesia. Dalam paparannya, ia ingin mengajak agar masyarakat mengenal lebih jauh mengenai satwa penyu mulai dari biologi penyu, relokasi telur penyu, penanganan penyu, identifikasi spesies penyu, dan upaya mitigasi penyu yang tertangkap (by catch). Dalam kesempatan tersebut, ia ingin mencoba meluruskan pemahaman atau pandangan di masyarakat yang selama ini sangat salah kaprah. Selama ini berkembang anggapan di masyarakat bahwa daging dan telur penyu mempunyai manfaat yang baik bagi kesehaan tubuh manusia. Ternyata hal tersebut salah.

Mengonsumsi telur maupun daging penyu justru mempunyai dampak yang cukup berbahaya bagi manusia. Dalam sebuah penelitian, diketahui bahwa ternyata penyu memiliki kandungan lemak dan kolesterol 20 kali lebih banyak dibandingkan telur ayam. Kandungan kolesterol yang tinggi dalam tubuh dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang berujung pada penyakit berbahaya seperti jantung, stroke, tekanan darah tinggi, dan obesitas. Selain itu telur dan daging penyu mengandung senyawa yang tergolong Polutan Organik Persisten (POP) dan logam berat yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia antara lain tembaga, kobalt, selenium, arsenic, cadmium, dan merkuri. Kanker, liver, kerusakan sistem syaraf, dan gangguan sistem hormon endokrin adalah daftar penyakit yang dapat ditimbulkan dari zat berbahaya itu.

Kegiatan kampanye ditutup dengan kesepakatan berupa Rencana Aksi Tindak Lanjut antara lain : 1) Membentuk Tim Pokja yang terdiri dari PSDKP, WWF, TNI AL, Polai, DKP dan instansi terkait lainnya, 2) Melakukan operasi bersama secara rutin dua bulan sekali, 3) Sosialisasi ke desa-desa, dan 4) Meningkatkan peran Pokmaswas dan membentuk desa binaan.

Pada tanggal 6 April 2017, tim Pangkalan PSDKP Tual dan WWF Indonesia kembali melanjutkan kegiatan kampanye dengan terjun langsung ke masyarakat yaitu di Pulau Hoat, Kecamatan Manyeuw, Kab. Maluku Tenggara. Hasil dari kegiatan tersebut, masyarakat Kepulauan Hoat telah sepakat dan berjanji untuk tidak menangkap penyu dan selanjutnya akan melaporkan kepada petugas apabila melihat ada masyarakat yang melakukan penangkapan ataupun menjual penyu. (rahmadbsantosa)